Senin, 05 Desember 2016

4 Cara Berbeda Menggunakan Google Translate

Image may contain: phone and screen

4 Cara Berbeda Menggunakan Google Translate
Bisa Pakai Kamera dan Tulis Tangan


Dulu untuk mengetahui terjemahan bahasa asing, dibutuhkan sebuah buku kamus yang terkadang berukuran besar.
Semakin lengkap kumpulan kata, maka semakin tebal kamus tersebut.
Kini masa tersebut sudah lewat, sekarang kamu bisa menterjemahkan bahasa asing hanya dengan bermodalkan smartphone, koneksi internet, serta aplikasi.
Bagi pengguna smartphone berbasis Android, salah satu aplikasi yang cukup bagus untuk dicoba adalah Google Translate.
Asiknya, aplikasi ini bisa menterjemahkan melalui 4 cara berbeda.

1. Mengetik

Cara paling konvensional yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengetik suatu kata atau kalimat.

Kamu tinggal mengetik pada kolom kosong yang bertuliskan Tap to enter text. Setelah itu, aplikasi akan langsung mengubahnya ke pilihan bahasa yang telah kamu tentukan di bawahnya.

2. Manfaatkan kamera

Dari aplikasi ini, tekan ikon kamera yang berada di pinggir kiri. Setelah kamera aktif, kamu bisa mengarahkannya ke dokumen atau suatu tulisan.

Ada dua cara yang bisa dilakukannya, pertama bisa langsung menterjemahkan secara real-time dengan syarat ikon mata yang terdapat di sisi kanan harus aktif.
Yang kedua, kamu bisa mematikan ikon mata ini dan menterjemahkannya setelah tulisan dijepret menggunakan kamera dan kamu bisa menterjemahkannya satu persatu dengan menekan tiap kata. 

3. Melalui suara

Kamu bisa menekan ikon mikrofon yang berada di tengah.

Tekan ikon ini dan ucapkan kata atau kalimat yang dimaksud, Dengan metode pengenalan suara (voice-recognition), aplikasi ini akan menterjemahkan melalui teks serta suara.

4. Tulisan tangan

Tekan ikon yang ada di pojok kanan, Buat tulisan tangan di kolom kosong bagian bawah yang bertuliskan Write here. Fungsi ini memang lebih cocok digunakan pada smartphone yang memiliki stylus.

Waspada Instal Aplikasi Gratis (No Safe)



 
Instal Aplikasi Gratis Android, Anda Perlu Waspada Hal Ini

Riset yang dilakukan Carnegie Mellon University mengungkap hal mencengangkan tentang aplikasi gratis untuk platform Android.
Menurut hasil survei, setengah dari 18.000 aplikasi gratis yang ada di Play Store tidak memiliki privacy policy.
Ketiadaan privacy policy ini beragam bentuknya.
Salah satunya, ada aplikasi gratis yang tidak jujur mengenai cara mereka menangani data penggunanya.
Ada juga yang tidak jujur dalam hal penyebarannya.
Contohnya, sebagaimana dilansir KompasTekno dari PhoneArena, Minggu (4/12/2016), 41% dari total aplikasi gratis yang memiliki privacy policy menyatakan bahwa mereka sebenarnya mengumpulkan data pengguna.
Meski begitu, tidak diketahui data apa yang dikumpulkan.
Sementara, ada 17 persen aplikasi gratis yang ternyata membagikan data-data pengguna ke pihak lain.
Jumlah tersebut bisa jadi lebih besar.
Pasalnya, Carnegie Mellon melakukan penelitiannya menggunakan sistem yang bergerak secara otomatis, dengan memasukkan perintah tertentu.
Cara pencarian aplikasi secara otomatis itu memiliki kelemahan, yaitu hasilnya tidak seakurat pencarian manual.

“Walau sistem otomatis menemukan kemungkinan pelanggaran privasi yang tidak konsisten, bukan berarti masalah pelanggaran ini ada di semua aplikasi,” terang Profesor of Computer Science di Carnegie Mellon University, Norman Sadeh.

Sebenarnya mayoritas semua negara memiliki aturan hukum yang mewajibkan pembuat aplikasi mengatur kebijakan pemakaian data pribadi (privacy policy).
Terutama jika jenis data yang diambil oleh aplikasi itu bisa dipakai untuk mengidentifikasi seseorang, seperti alamat e-mail, nomor telepon, dan sebagainya.
Begitu pula dengan Google yang mewajibkan hal serupa pada aplikasi yang meminta data pribadi jenis tersebut.
Di sisi lain, ada saja pengembang aplikasi yang memang tidak tahu bahwa dirinya harus menjelaskan kebijakan penggunakan data pribadi kepada pengguna.

Minggu, 04 Desember 2016

Underworld: Blood Wars



Underworld: Blood Wars

Untuk sebuah horor aksi dengan kualitas pas-pasan, mengejutkan memang bisa tetap melihat waralaba Underworld masih bisa tetap berdiri tegak selama 13 tahun lamanya. Mungkin kemudian tidak terlalu mengherankan jika kamu melihat fakta di lapangan, bagaimana keuntungan yang diperoleh Screen Gems dari empat seri Underworld; 458 juta Dolar dari bujet 177 jutanya, ya, ini jelas adalah proyek yang masih menjanjikan untuk terus dan terus dibuat karena sesuai hukum ekonomi, selama permintaan masih cukup tinggi maka produksi akan terus ada.
Melanjutkan dari seri Awakening, Blood Wars masih berada dalam pakem yang sama perseteruan abadi vampir dan manusia serigala (lycan), hanya saja kini heroine kita, Selene (Kate Beckinsale) si Death Dealer tangguh menjadi fokus perebutan dua klan horor tersebut mengetahui fakta ia adalah buron dari kaum vampir karena berdosa telah membunuh sang pimpinan dan kedua, ia dan putrinya, Eve memiliki kualitas darah istimewa yang konon mampu memberikan kekuatan luar biasa bagi siapa saja yang meminumnya. Selene tidak sendiri, kini sepeninggal kekasih tercintanya, Michael yang separuh vampir separuh lycan, Selene bersama David, putra dari salah satu petinggi kaum vampir (Theo James) berusaha menghentikan perang darah ini sekali untuk selamanya.
Konsistensi, mungkin bisa dibilang kunci mengapa franchise ini masih bisa terus ada.
Masih mempertahankan tone gothic-dinginnya sejak seri pertama dengan aura gelap, masih berpusat pada perang abadi dua makhluk malam yang menarik dan juga rumit di saat bersamaan, dan bagian terbaiknya adalah ia masih memasang Kate Beckinsale sebagai jagoannya, bahkan setelah 13 tahun Beckinsale masih memberikan pesona yang sama ketika pertama kali kita melihatnya dalam latex hitam seksi ketatnya. Ya, pada dasarnya Blood Wars masih film yang sama dengan para pendahulunya meski sudah tiga kali berganti sutradara (Kini kendali dipegang oleh seorang eks sinematografer, Anna Foerster).
Sayang konsistensi juga masih berlaku buat kualitas naskahnya yang tidak pernah benar-benar bisa diperbaiki. Masih menderita di sana-sini dengan segala kerumitan yang seakan tidak berujung, perseteruan vampire dan lycan kembali diulang dan diulang tanpa motif yang benar-benar kuat selain dendam abadi masa lalu.
meski memang sejak Awekening fokus lebih bergeser ke pribadi Selene dengan segala kisah asmara dan evolusinya sebagai vampir super yang kemudian menjadi dasar buat narasi Blood Wars ini.
Bukan berarti tidak ada sesuatu yang baru di sini, ada, hanya saja bukan sesuatu yang sampai bisa membuat Blood Wars menjadi seri yang lebih istimewa ketimbang pendahulunya, tidak dengan kehadiran Tobias Menzies sebagai komandan baru para lycan atau Lara Pulver sebagai Semira yang licik, termasuk kejutan di ujung cerita yang tampak sekali terkesan terlalu dipaksakan tanpa memberi penjelasan yang cukup.
Sementara untuk bagian aksinya, Blood Wars masih sama memukaunya dengan pendahulunya, meski yah, saya lebih memilih momen puncak Awakening ketimbang ini namun sekali lagi, perseteruan fisik di Blood Wars masih masuk dalam tahap menghibur, terlebih Beckinsale masih tampil sama keren dan badass-nya seperti yang sudah-sudah dengan segala pesona fisik dan kemampuan vampirnya yang luar biasa.

Guardians of the Galaxy Vol. 2





Guardians of the Galaxy Vol. 2

Akhirnya trailer perdana Guardians of the Galaxy Vol. 2 dirilis.
Sekuel dari film garapan James Gunn ini telah lama ditunggu-tunggu trailernya, setelah sebulan yang lalu sneak peek dan posternya diluncurkan.
Meskipun bersifat mirip trailer, sneak peek tersebut hanyalah ‘pembuka’ bagi trailer yang sebenarnya.
Separuh dari trailer ini sudah terlihat di sneak peek tapi tentu saja masih banyak kelucuan yang tersisa di teaser trailer resmi di sini.
Monster raksasa bertentakel yang muncul di concept art muncul di sini, juga karakter Mantis milik Pom Klementieff.
Masih mencuri perhatian adalah Baby Groot yang tak mau mendengarkan Rocket Raccoon dan bertingkah seperti pohon kecil gila.
Semua ini akan terlihat lebih lucu jika ditonton sendiri di bawah.
Film yang dibintangi oleh
Pratt, Zaldana, Bautista dan Pom Klementieff ini juga akan menampilkan Karen Gillan, Michael Rooker, Kurt Russell, Elizabeth Debicki, Glenn Close dan Sylvester Stallone.
Sementara itu karakter Rocket Racoon disuarakan oleh Bradley Cooper dan Groot oleh Vin Diesel. Diproduseri oleh Kevin Feige, GotG Vol. 2 akan tayang pada 5 Mei 2017.

Sabtu, 03 Desember 2016

TEASER THE MUMMY



The Mummy

Universal merilis teaser berupa poster dan klip untuk menyambut trailer perdana The Mummy yang dibintangi Tom Cruise dengan Sofia Boutella memerankan versi baru mumi, yaitu seorang wanita.
Lihat teaser dan poster di atas.
Klip berdurasi singkat disertai pengumuman bahwa trailer perdana akan debut pada hari Senin, waktu Amerika.
Sebelumnya kita melihat sebagian aksi Cruise memerankan tokoh utama Nick Morton. Nick adalah pemimpin grup arkeolog yang menemukan petunjuk bahwa “seorang putri purbakala” yang menjadi legenda selama jutaan tahun ternyata benar-benar adanya, dan dia akan segera bangkit.
Sementara posternya menampilkan headline “Selamat datang di dunia baru berisi para Dewa dan Monster” untuk menandakan inilah film pertama yang mengawali franchise monster klasik garapan studio Universal.
Russell Crowe tampil hanya sepersekian detik namun sukses mencuri perhatian.
Akan menarik melihat bagaimana Crowe memerankan Dr. Jekyll/Mr. Hyde serta berbagi layar dengan Cruise.
Turut bermain adalah Annabelle Wallis (Peaky Blinder), Jake Johnson (Jurassic World) dan Courtney B. Vance (Terminator Genisys).
Pastikan kau kembali untuk menyaksikan trailer pertamanya.

Rabu, 30 November 2016

Film dan Software Bajakan Makin Sulit "Di-googling"





Film dan Software Bajakan Makin Sulit "Di-googling"

Belakangan ini, sangat sulit untuk menemukan tautan ke konten yang melanggar hak cipta, seperti film dan software bajakan, di mesin pencari Google.
Pasalnya, raksasa internet itu menyatakan sudah menghapus ratusan juta link tersebut.
Dalam laporan Transparency Report.
Google mengaku mendapatkan permintaan untuk menghapus tautan ke konten bajakan sebanyak 1.007.741.143.
Permintaan tersebut datang dari perusahaan pemilik hak cipta.
Meski demikian, Google tidak memenuhi semua permintaan tersebut.
Google hanya mengabulkan sekitar 90%, atau sebanyak 908.237.861, dari permintaan tersebut.
Sisa tautan yang dilaporkan, sebagaimana KompasTekno rangkum dari TorrentFreak, Selasa (29/11/2016), permintaan ditolak karena tidak bisa dibuka, tidak melanggar hak cipta, atau hanya merupakan duplikasi dari permintaan sebelumnya.
Secara total, Google telah memproses lebih dari 2 miliar tautan yang diduga melanggar hak cipta.
Sekitar dua miliar tautan tersebut datang dari 945.000 domain yang berbeda.
Kebanyakan permintaan penghapusan ditujukan kepada situs berbagi file 4shared.com. Meski begitu, pihak pengelola situs tersebut menyatakan bahwa URL yang dilaporkan kebanyakan hanya berupa duplikasi belaka.
Berdasarkan hukum Digital Millennium Copyright Act (DCMA) di AS, sebuah perusahaan memang berhak meminta untuk penghapusan konten atau tautan yang mengandung pelanggaran hak cipta.
Perusahaan yang diminta untuk menghapus wajib untuk melakukan penyelidikan dan menghapus konten yang dipastikan berisi konten bajakan.
Dalam beberapa tahun belakangan, permintaan penghapusan tautan tersebut dikatakan meningkat drastis.
Buktinya, Hanya dalam hitungan 12 bulan saja, sudah ada sekitar 1 miliar link yang dilaporkan. Padahal, sebelumnya dibutuhkan beberapa tahun untuk mencapai angka 1 miliar permintaan.
Apakah ini pertanda bahwa tautan bajakan akan menghilang dari internet?
Mungkin saja?!

Pengguna Mediasosial Harus Saling Mengingatkan





Pengguna Medsos Harus Saling Mengingatkan
Media sosial (medsos) saat ini seolah menjadi pisau bermata dua bagi pemiliknya, jika tidak hati-hati maka urusan dengan penegak hukum akan terjadi.
Dengan adanya UU ITE, semua rawan untuk terjerat karena hanya postingan di Medsos.
Josua Sinambela, Konsultan Teknologi Informasi yang juga seorang Ahli yang menangani kasus terkait internet mengatakan bahwa saat ini semua orang bisa terjerat hukum hanya karena media sosial.
Sehingga harus benar-benar berhati-hati.
"Sekarang ada undang-undang ITE, sebelum direvisi pun sama bisa dikenakan. Cuman sekarang jadi lebih agresif. Artinya setiap pengguna harus berhati-hati, " ujarnya menjawab pertanyaan Tribun di sela diskusi tentang BlackOPS, Keterlibatan Pasukan Cyber Dalam Pertarungan Pilkada di Jogja Digital Valley, Selasa (29/11/2016) kemarin.
Meski tidak membuat konten, menurut Josua pengguna medsos bisa terjerat hanya karena melakukan satu kali klik untuk menshare sesuatu hal yang belum terverifikasi.
Jika tidak ingin memverifikasi maka pengguna medsos disarankan untuk tidak menshare sebuah informasi.
Hal lain yang harus dilakukan adalah pengguna media sosial yang mengetahui tentang jerat UU ITE diharapkan memberikan pemahaman kepada koneksinya agar tidak melanggar UU ITE.
"Jangan hanya sekedar share, ini membuat mereka suatu saat bisa terkena. Makanya harus hati hati, misalnya gak hati hati mungkin ada yang gak suka bisa dilaporkan," kata Josua.
Sebagai seorang ahli dan saksi ahli untuk beberapa kasus yang berkaitan dengan kasus internet, Josua mengatakan bahwa kasus kasus yang terkait UU ITE cukup banyak.
Dimana semua kasus tidak hanya kasus besar saja yang sebenarnya bisa diproses, namun menurutnya saat ini ada kendala di SDM lembaga yang menangani, sehingga ada prioritas kasus yang ditangani.
"Saat ini saya sedang menangangi banyak kasus sampai numpuk numpuk. Semua bisa diproses, meski ada yang diprioritaskan, " katanya.
Ditanya terkait apakah mudah atau sulit untuk mencari penyebar info hoax, provokasi atau hal hal lain yang negatif, menurutnya itu sangat bisa dilakukan, karena di media sosial ada parameter parameter yang bisa ditelusuri.
Meski prosesnya cukup panjang dan membutuhkan tim.
Adapun untuk pelaku penyebar atau pembuat informasi hoax atau provokasi menurut Josua adalah orang orang yang terorganisir.
Informasi itu disebarkan tidak hanya melalui akun palsu, namun juga menggunakan akun orang lain yang dibobol atau di-hack, Sehingga bisa jadi pemilik akun tidak mengetahui jika akunnya disalahgunakan.